Tampilkan postingan dengan label ekonomi politik media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi politik media. Tampilkan semua postingan
3

KOMODIFIKASI DALAM EKONOMI POLITIK MEDIA

Komodifikasi merupakan istilah baru yang mulai muncul dan dikenal oleh para  ilmuwan  sosial.  Komodifikasi  mendeskripsikan cara  kapitalisme melancarkan tujuannya dengan mengakumulasi kapital, atau, menyadari transformasi nilai guna menjadi nilai tukar.  Komoditas dan komodifikasi adalah dua hal yang memiliki hubungan objek dan proses,  dan menjadi salah satu indikator kapitalisme global yang kini tengah terjadi. Dalam ekonomi politik media komodifikasi adalah salah satu bentuk penguasaan media selain strukturasi dan spasialisasi.

Komodifikasi  menurut  Vincent  Mosco  digambarkan  sebagai  cara kapitalisme  dengan  membawa  akumulasi  tujuan  kapitalnya  atau mudahnya dapat digambarkan sebagai sebuah perubahan nilai fungsi atau guna menjadi sebuah nilai tukar. Dan sekarang ini telah sangat banyak sekali bentuk komodifikasi yang muncul dalam perkembangan kehidupan manusia.  Karena  mulai  banyak  juga  yang  dijadikan  komoditas  oleh manusia.

Komodifikasi intrinsic atau komodifikasi isi merupakan proses perubahan pesan dari kumpulan informasi ke dalam system makna dalam wujud produk yang dapat dipasarkan. Atau dalam penjelasan lainnya disebut sebagai proses mengubah pesan da sekumpulan data ke dalam system makna sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang bisa dipasarkan

Komodifikasi ekstrinsik atau komodifikasi khalayak merupakan proses modifikasi peran pembaca/khalayak oleh perusahaan media dan pengiklan, dari fungsi awal sebagai konsumen media menjadi konsumen khalayak selain media. Hal inilah dari yang dijual kepada pengiklan. Pada proses ini, perusahaan media memproduksi khalayak melalui sesuatu program/tayangan untuk selanjutnya dijual kepada pengiklan. Terjadi proses kerja sama yang saling menguntungkan antara perusahaan media dan pengiklan, dimana peusahaan media digunakan sebagai sarana untuk menarik khalayak, yang selanjutnya di jual kepada pengiklan

Komodifikasi sibernetik terkait dengan proses mengatasi kendali dan ruang. Instrinsik komodifikasi merupakan proses media melakukan pertukaran dengan rating, sedangkan untuk extrinsic komodifikasi menjangkau seluruh kelembagaan sosial sehingga akses hanya dimiliki media.

Dalam proses komodifikasi ini, sesuatu diproduksi bukan terutama atas dasar nilai guna, tetapi lebih pada nilai tukar. Artinya sesuatu di produksi bukan semata-mata memiliki kegunaan bagi khalayak, tetapi lebih karena sesuatu itu bisa dipertukarakan di pasar. Dengan demikian orientasi produksi bukan untuk memenuhi kebutuhan objektif masyarakat tetapi lebih mendorong akumulasi modal.

0

KOMODITAS BERITA

Televisi sebagai media dari budaya popular menghasilkan berbagai macam program yang dapat disaksikan oleh semua kalangan di dunia pada umumnya. Program-program tersebut sangat variatif, dimulai dari acara yang edukatif seperti berita, talk show tentang politik, keagamaan, hingga yang menghibur seperti film, sinetron maupun olah raga. Program-program tersebut selalu berkembang sesuai kebutuhan zamannya sehingga banyak bermunculan tayangan-tayangan baru yang membuat acara televisi semakin beragam. Salah satunya adalah berita, produk ini bisa dikatakan sebagai komoditas yang tidak ada matinya, sehingga beberapa tv swasta seperti TV one, Metro TV memilih berita sebagai produk utama mereka.
Semua permasalahan di negeri ini bisa menjadi sebuah rupiah, tidak ada kecuali. Mulai dari Musibah, Bencana, Kriminalitas, Dinamika politik, Ekonomi, Budaya, Agama, Olahraga, Masalah pribadi seseorang, Kuliner, Hobby hingga masalah pribadi public figure. Dan berita yang berseri seperti bank century, cicak vs buaya, 100 hari SBY seakan tidak berujung karena berita tersebut disorot terus menerus dari berbagai aspek.
Bila dikaitkan dalam kebijakan media level mikro hingga meso dan dalam konteks komodifikasi maka uraiannya sebagai berikut :
Level mikro yakni level yang mengandung atau berkaitan dengan isi atau produk media itu sendiri. Berita dalam level mikro berisi tentang isu-isu yang berkembang dalam masyarakat, untuk moment atau kasusu tertentu sering kali terjadi repitisi, beritayang bertujuan sebagai sumber informasi seringkali juga bersifat provokatif dan tidak sedikit yang bersifat tendensius yakni memiliki tujuan-tujuan tertentu dari kepentingan perorangan atau golongan.
Dalam level meso tujuan sebuah media menanyangkan berita tidak lain untuk meraih keuntungan, selain mencari simpati publik dan berharap menjadi media yang berguna di mata msyarakat. Untuk stasiun televisi tertentu berita menjadi komoditas utama, dengan tujuan berita tersebut dapat menjadi trade bagi satasiun tersebut.
Level meso dalam komoditas berita yakni khalayak dan rating berita yang diakumulasi dan ternyata berita memang memiliki rating yang cukup tinggi. Berita juga dapat menjadi wadah dalam komunikasi politik maupun non politik bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
0

KOMODIFIKASI

Review: ekonomi politik media merupakan kegiatan media dalam menjalankan fungsi-fungsi ekonomi serta politiknya, dengan kata lain media sebagai instansi ekonomi juga instansi politik. Merujuk dari pendapat Mosco, ekonomi politik merupakan hubungan kekuasaan (politik) dalam sumber-sumber ekonomi yang ada di masyarakat. Namun demikian bila dikaitkan dengan media, maka ada 3 konsep yang harus dipahami, yakni : Komodifikasi, Spasialisasi dan Strukturisasi.

Komodifikasi dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan barang dagangan atau dengan kata lain merubah sesuatu yang bernilai guna menjadi nilai tukar(uang). Jika dihubungkan dengan aktifitas media maka komodifikasi merupakan upaya untuk menjadikan segala sesuatunya(barang dagangan) untuk meraup keuntungan. Tentunya konteks barang dagangan disini, segala hal yang terkait dengan isi media, yakni : Isi media(seperti program-program acara dari berbagai dimensi), Audience/pemirsanya(yakni sebagai komoditas yang menaikkan rating, sehingga rating tersebut yang akan mengundang para pengiklan), Iklan(jelas merupakan sumber keuntungan terbesar bagi media, karenanya semua aspek pendukung dikerahkan untuk memperoleh keuntungan dari pengiklan)

Pemahaman : Fenomena yang terjadi pada dunia media kita saat ini adalah segala macam bentuk atau konten media selalu dikomodifikasikan. Salah satu contoh proses komodifikasi di media televisi adalah dari pola konsumsi media massa yang juga dibentuk oleh kerjasama“pengusaha” media dan pengusaha lain. Tayangan Akademi Fantasi Indosiar (AFI) , Indonesian Idol, Kawasan Dangdut Indonesia (KDI) dan bermacam-macam kuis interaktif televise lainnya merupakan “hasil kerja sama” antara pengusaha media televisi dan pengusaha jaringan selular. Karena tujuan usaha mereka adalah mendatangkan profit, maka isi siaran media massa digunakan untuk menciptakan “pasar” bagi perusahaan jaringan selular melalui penggunaan Short Message Service (SMS). Dengan kata lain dalam proses ini, audience kembali dijual untuk meraup keuntungan.

Namun di Negara maju khalayak memiliki kekuatan besar yakni dapat menekan atau memboikot suatu program atau iklan yang ditampilkan di media massa. Dengan demikian khalayak tidak semena-mena dapat ‘dijual’ oleh media. Seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga di Jepang yang tidak mau pola makan anaknya dikendalikan pengusaha Mc Donald. Mereka melakukan demo di outlet-outlet McDonald untuk memprotes iklan McDonald di televise yang memberikan hadiah bila membeli ‘paket’ makanan dan minuman tertentu di outlet Mc Donald. Karena selain pola konsumsi media yang dikendalikan oleh pengusaha media, pola konsumsi masyarakat di bidang-bidang lain juga dikendalikan oleh media, misalnya: Pola konsumsi Hand Phone atau Fast Food.

Asumsi mengapa proses komodifikasi begitu mengakar pada media karena, media hanya dapat dimiliki oleh pemilik modal kuat atau dengan kata lain untuk mendirikan sebuah media diperlukan biaya yang sangat besar sehingga bila kebutuhan modal terpenuhi maka pemulihan keuntungan akan dilakukan sebesar-besarnya, hal tersebut juga dikarenakan adanya persaingan media.

0

EKONOMI POLITIK MEDIA

Media massa adalah kelas yang mengatur, menurut premis teori Marxis. Mengatur disisni bermakna media tidak saja memiliki dan menjalankan fungsi sosial dan ekonomi, tetapi media juga menjalankan fungsi ideologis.

            Fungsi sosial media adalah memberikan informasi dan fakta kepada publik, juga menjadi fasilitas komunikasi antar perorangan maupun lembaga, dimana di dalam kegiatan tersebut juga terdapat fungsi ekonomi, yakni meraih keuntungan sebesar-besarnya. Namun demikian sebuah media, baik cetak atau elektronik memiliki ideologi tersendiri, konteks ideologi disini adalah sebuah titik tolak media dalam menjalankan fungsi-fungsinya tersebut.

            Sebuah media bisa saja pro atau kontra dengan sebuah lembaga atau perorangan, bisa dengan latar belakang ekonomi maupun politik. Ekonomi politik media, seperti yang telah strukturkan sebelumnya merupakan kegiatan ekonomi dan kegiatan politik sebuah media, dimana sebuah media dapat menjadi sebuah instansi bisnis dan juga instansi politik.

Analisa ekonomi politik media penyiaran :

Secara umum media massa selain menjadi media pengiklan atau penghasil surplus ekonomi, juga sebagai media yang menyebarkan atau memperkuat struktur ekonomi serta politik tertentu.Ada kaitan kondisi ekonomi politik suatu Negara dengan praktik pemberitaan meskipun dipengaruhi pula oleh kondisi ekonomi politik global.

Yang menjadi isu dalam komunikasi modern adalah kepemilikan serrta praktik media terkonsentrasi pada kelompok atau golongan bisnis besar. Di satu sisi kepentingan-kepentingan politik tersebut menghasilkan laba namun tidak selaras dengan fungsi social media sebagai ruang public.

Sebagai contoh adalah kasus:

Dari hasil pantauan AJI(Aliansi Jurnalis Independen), pemberitaan media pada proses pemilu 1997 berpihak pada pemerintah yaitu dengan adanya diskriminasi waktu oleh media elektronik. ANTV memberikan 5,58 menit untuk pemberitaan partai golkar dan tidak semenitpun untuk partai lain, RCTI memberikan 9,29 menit untuk Golkar dan 3 menit untuk kedua partai lain, TVRI memberikan 1 jam untuk partai Golkar dan 5 menit untuk kedua partai lain.

DEWI KURNIAWATI (153080192)

Anterior Inicio